For Sale

Thursday, September 17, 2009

Mp3Raid music code

Friday, June 12, 2009

BIOGRAPHY I PUTU NGURAH ARDIKA

Mr.Ngurah Ardika is patrilineal come from Banjar Sakti, Sakti Village, Nusa Penida, Klungkung, the ancestral father (parents) in line is the Knights purusa Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan and generally is predana Arya Sentong.

In his spiritual journey was not without a process, although the spiritual abilities such as kundalini, inner eyes and travel astral body is believed to have carried since birth, he was born on September 2, 1970 in Banyuning Village, Buleleng. Until the age of 12 years was used to do astral travel to pray to the holy places. In astral travel is not rare to meet with the holy spirit that teaches a variety of spiritual abilities. At the age of 12-29 years is a period of spiritual learning for him. Young Ngurah teachers learn not to like most people, but get direct guidance from God Almighty, Seven Rsi and the Gods.

Later in the mature age of 29-34 years is a purification process begins with a soak in a holy spring in Mertasari Beach, Sanur, then at Menjangan Sea Coast, West Bali, Buleleng. Final purification done at the holy spring Tirta Empul Temple, Sukawati, Gianyar.

After 34 years of age, Mr. Putu Ngurah Ardika start teach and raise the kundalini. This activity is carried out at any time and at every opportunity. Free generation is often done in various places. Only close to the True Teacher of Kundalini, a person who has a spiritual gift to be able to experience a spontaneous kundalini awakening.

Activities in the social, humanitarian and religious by Spiritual Dharma Sastra Foundation which he founded can never stop lived. Solid everyday activities, including writing a book. Many spiritual books that have become the results of his work and was circulated in some bookstores.
Amid the bustle of crowded, affection of two sons and one daughter who coached with his wife (Komang Primadani) remained perfect shed. Harmonious relations, mutual respect within the family that is what he always planted to thousands of students belonging to the Spiritual Dharma Sastra Foundation..

Sunday, May 31, 2009

Sembahyang dan Melukat

Sembahyang dan Melukat bersama di Pesraman Semanik


Pada tanggal 17 Mei 2009 Yayasan Spiritual Dharma Sastra mengadakan acara sembahyang dan melukat bersama di Pesraman Semanik di Desa Pelaga, Petang Badung. Acara ini diikuti oleh ratusan murid yang datang dari seluruh Bali dengan sarana penglukatan berupa nyuh gading, nyuh bulan, nyuh gadang dan nyuh udang. Saya sendiri mengikuti penglukatan dengan sarana 3 buah nyuh gading dan 1 bunga sandat karena masuk kelas umum. Acara ini berlangsung dari jam 09.00-12.00 wita, dimulai dengan melukat, sembahyang bersama dan acara lempar bunga dan batu ke Lingga Yoni




Thursday, May 28, 2009

Meditasi Perdana di GOR Lila Buana

Pada tanggal 28 April 2009 meditasi rutin yang biasa dilaksanakan pada hari Selasa yang biasanya bertempat di Yayasan Spiritual Dharma Sastra dipindah ke Gedung Olah Raga Lila Buana di Jalan Melati Denpasar. Suasana GOR memang lebih nyaman rasanya namun sayang suara speakernya masih agak pecah dan bergema sehingga terdengar agak mengganggu tapi itu semua tidak mengurangi antusias para murid Spiritual Kundalini untuk melaksanakan meditasi di bawah bimbingan langsung Bapak Ngurah Ardika dan Ibu Dayu Inten Ganetri. Meditasi dimulai dari jam 20.00 wita dan berakhir sekitar jam 22.00 wita





Sunday, May 24, 2009

Pesraman Semanik

Menyadari kompleknya kebutuhan kehidupan duniawi, materi dan rohani Yayasan Spiritual Dharma Sastra, sebuah yayasan yang mengenalkan tentang ajaran Spiritual Kundalini mendirikan sebuah Pesraman Hindu yang bertempat di bawah kaki gunung Pucak Mangu di Banjar Semanik, Desa Plaga, Petang Badung dengan rencana kawasan kurang lebih 30 hektar yang mulai didirikan sekitar bulan Pebruari 2008.

Pesraman ini sebagai ide dari Guru Sejati Kundalini, Bapak Putu Ngurah Ardika yang juga sebagai pendiri dan pembina Yayasan Spiritual Dharma Sastra. Maksud didirikan pesraman ini adalah untuk mencerdaskan kualitas umat Hindu sesuai dengan tuntunan zaman dan globalisasi.

Pesraman ini nantinya akan menjadi media pembelajaran bagi umat Hindu untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia Hindu yang tangguh, bermoral, berbakti, cerdas dan bijaksana dalam menyikapi perkembangan zaman dan juga mampu memngemban misi di bidang kemanusiaan, sosial, pendidikan, agama, budaya, adat, ekonomi, pariwisata dan pertanian dalam arti luas untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan umat.

Keadaan sekarang di Pesraman Semanik tengah merampungkan pembangunan tahap pertama berupa Pura Semanik, walaupun belum rampung berbagai aktivitas spiritual sudah dilaksanakan seperti persembahyangan bersama dan penyucian diri (melukat) yang dilaksanakan minimal sebulan sekali.

Monday, May 18, 2009

Spiritual Journey Process of Kundalini

Spiritual Journey process of Kundalini

In real life, someone who pursue the spiritual especially Spiritual Kundalini Bali under the auspices of the Spiritual Dharma Sastra Foundation should always be kept out of desperation.
According to Mrs. Ida Ayu Inten Genitri (Bu Dayu) one of the teachers in the Spiritual Dharma Sastra Foundation should we as students must always be patient and steadfast face various trials of life. The purpose of spiritual teaching kundalini it self is to find inner balance and wisdom that is not swayed against the duality of life, or tidal life.

In general, whatever happens in this life is actually the result of our own karma, whether originating from the birth of present and past, we recall off or not. Therefore, we should rejoice because it is paying off karmic debts and through this spiritual journey, in fact the purification process that occurs will be accelerated and facilitated.

Now depending on the thickness of the inheritance of sin, which brought the karma will determine the degree of quantity and quality of experienced trial. Until one day we will begin to feel true happiness as the scales began to win good karma.

So in the process of spiritual living, in the beginning will happen with the purification process due to all the trials and suffering (grief) will appear alternately. In the end we will enjoy lasting happiness, when we become pure self.

Be patient, because anyone who wants to "level up" the level of spirit should continue to undergo any faced with great balance and a smile

Saturday, May 16, 2009

TirtaYatra

Dalam Agama Hindu ada empat jalan untuk mencapai atau menuju Tuhan yaitu yang disebut dengan Catur Marga atau disebut juga Catur Marga Yoga yang terdiri dari :
1.Jnana Yoga yakni cara mencapai atau menyatukan diri dengan Tuhan dengan mengabdikan ilmu pengetahuan untuk kebaikan orang banyak
2.Raja Yoga yakni cara mencapai atau menyatukan diri dengan Tuhan dengan melakukan brata ,tapa, yoga dan semadhi
3.Karma Yoga yakni cara mencapai atau menyatukan diri dengan Tuhan dengan melakukan perbuatan-perbuatan mulia dan bermanfaat tanpa pamrih
4.Bhakti Yoga yakni cara mencapai atau menyatukan diri dengan Tuhan dengan melakukan kebaikan dan sujud bhakti yang tulus dan terus-menerus

Walaupun ada empat cara tetapi tidak ada yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah semuanya baik dan utama tergantung pada bakat atau kemampuan masing-masing. Jalan yang satu berhubungan erat dengan yang lainnya, semuanya akan mencapai tujuannya asal dilakukan dengan tulus ikhlas, ketekunan, kesujudan, keteguhan iman dan tanpa pamrih. Tanpa pamrih adalah melakukan perbuatan-perbuatan atas dasar kesucian dengan penuh keikhlasan demi kesejahteraan umum dengan tidak mengharapkan hasilnya untuk kepentingan diri sendiri.
Jika seseorang mempunyai perasaan yang halus dan mempunyai ketekunan dalam memuja Tuhan maka Bhakti Yoga yang patut ditempuh. Perwujudan Bhakti Yoga adalah melakukan yadnya dan pemujaan atau persembahyangana secara tekun dan terus-menerus. Salah satunya adalah melakukan tirtayatra.
Tirtayatra berasal dari bahasa Sansekerta, Tirta dan Yatra. Tirta artinya pemandian, sungai, kesucian, air, toya atau air suci, sungai yang suci. Secara kenyataan pengertian tirta mengarah ke wujud air. Sedangkan Yatra berarti perjalanan suci. Jadi Tirtayatra adalah perjalanan suci untuk mendapatkan atau memperoleh air suci.
Tirtayatra dalam bahasa sehari-hari di Bali dipahami dengan tangkil atau sembahyang ke pura-pura. Tirtayatra tertulis dalam Kitab Sarasamuscaya 279 yaitu keutamaan tirtayatra itu amat suci, lebih utama dari pensucian dengan yadnya, tirtayatra dapat dilakukan oleh orang miskin. Artinya tirtayatra tidak memandang orang dalam status apapun baik kaya atau miskin asal didasarkan melalui pelaksanaan bhakti yang tulus ikhlas, tekun, sungguh-sungguh dan nilai kesucian atau kualitas kesucian tirtayatra lebih utama daripada membuat upacara banten, walaupun upacara itu tingkatannya utama. Hal ini juga sangat sesuai dengan pesan kebenaran yang pernah disampaikan oleh Guru Sejati Kundalini yaitu Bapak I Putu Ngurah Ardika, S.Sn bahwa melakukan perjalanan suci atau matirtayatra lebih utama nilainya daripada melakukan upacara yadnya. Maka dari itu rajin-rajinlah melaksanakan tirtayatra atau menyucikan diri dengan melaksanakan sembahyang, karena sembahyang adalah tuntunan wajib bagi umat manusia, apapun agamanya, keyakinan dan kepercayaannya.

Tirtayatra sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh umat sejak dulu, sejalan dengan kemajuan dan meningkatnya kesejahteraan maka tempat suci yang dikunjungi semakin luas. Umat semakin menyadari bahwa tirtayatra adalah sebuah yadnya yang paling mudah dilakukan karena dapat dilakukan oleh siapa saja.
Perjalanan suci atau tirtayatra bukanlah perjalanan biasa untuk bersembahyang, namun didalamnya termuat pengendalian diri dan pengekangan diri. Dalam kegiatan tirtayatra terjadi suatu interaksi yang positif diantara para pelaku tirtayatra. Tirtayatra akan mendekatkan antara umat satu dengan yang umat lainnya karena dalam perjalanan akan terjadi suatu komunikasi sosial, suka duka, canda ria dan interaksi lainnya. Tirtayatra juga mendekatkan antara umat dengan tempat suci atau pura dalam pengertian si pelaku tirtayatra akan mengetahui lebih dekat dan lebih dalam mengenai situasi, lokasi, sejarah serta nilai kesucian dan kebenaran yang terkandung pada tempat suci yang dikunjungi. Tirtayatra juga mendekatkan antara manusia dengan Sang Pencipta melalui pemujaan yang dilakukan di tempat suci yang dikunjungi. Dengan adanya kedekatan-kedekatan tersebut akan semakin menambah kekaguman akan kemahakuasaan Tuhan dan meningkatkan rasa bahkti kehadapan-Nya.
Tirtayatra adalah sebuah kegiatan suci dalam rangka penyucian diri secara lahir bathin, dimana di dalamnya terkandung unsur-unsur seperti :
1.Yatra atau perjalanan suci dalam suasana pengendalian diri, upawasa(puasa), japa (melantunkan mantra tertentu), dalam hal ini adalah proses tapa sebagai sebuah proses Raja Yoga.
2.Pemujaan dengan sujud bhakti dan pemusatan pikiran (Bhakti Yoga) yang apabila dilakukan secara rutin dan tekun akan menghapus kebodohan serta akan memberikan pencerahan yang merupkan proses Jnana Yoga.
3.Parahyangan atau pura atau tempat suci sebagai tempat untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasiNya.
4.Tirta atau air suci sebagai simbul waranugraha dan pancaran sinar suci Tuhan.
5.Dana punia atau pemberian sedekah sebagai ujian atau tapa dalam melepaskan keterikatan jiwa ini dengan benda-benda duniawi.

Sehingga dengan demikian tirtayatra yang dilakukan dengan tekun dan teratur serta sungguh-sungguh dengan penuh kesetiaan, konsentrasi dan kecintaan adalah merupakan pengejawantahan dari Catur Marga. Tirtayatra adalah jalan yang sederhana namun utama. Tirtayatra adalah investasi yang sudah pasti mendapatkan kebaikan.
Tirtayatra akan meningkatkan keyakinan atau srada dari umat terhadap kebenaran dan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan bertirtayatra sebenarnya manusia telah menjaga ketiga aspek keharmonisan hidup di dunia yakni Tri Hita Karana yakni aspek pawongan, palemahan dan parahyangan.
Dengan bertirtayatra mengarahkan badan dan jiwa kepada kesehatan, ketentraman, kedisplinan, kebijaksanaan, keharmonisan, kehormatan, kesucian, kebenaran dan terakhir kemanunggalan dengan Hyang Pencipta. Melalui tirtayatra manusia menuju pada penebusan dosa, pembebasan keterikatan, mencapai hidup yakni Mokshartam Jagadhita ya ca iti Dharma.
Bertirtayatra akan mendapatkan pancaran kesucian pikiran, perkataan dan perbuatan (Tri Kaya Parisudha). Dalam hal ini akan terlatih dalam pengendalian diri dalam kesucian, aura kesucian ini akan terpancar pada orang-orang yang ada di dekatnya, ataupun pada lingkungan tempat mereka tinggal.
Tirtayatra menumbuhkan kepekaan sosial, meningkatkan gairah seni dan keselarasan jiwa. Dengan cara sederhana ini kita memuja mohon restu dan anugrah kesucian. Semakin sering dan tekun dilakukan maka semakin terbuka jalan menuju penyatuan dengan Sang Hyang Sangkan Paraning Dumadi.
Ketika kelak nanti Sang Jiwa telah meninggalkan badan kasar ini maka teman sejati yang akan mengantar adalah subha dan asubha karma atau catatan tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk yang dilakukan selama diberi kesempatan di dunia ini. Kebajikan-kebajikan spiritual yang telah diperbuat di dunia ini yang mengantar sang jiwa menuju alam yang lebih mulia dan sebaliknya kegiatan buruk akan mengantar sang jiwa menuju alam yang lebih rendah.
(Dari berbagai sumber)

  © Blogger template 'Personal Blog' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP